Resapi dan Maknai, inilah Rapor Pendidikan Indonesia di Hari Pendidikan Nasional

Your Best Online Partner

Hai muda-mudi nusantara

Bentar lagi hari pendidikan nasional (Hardiknas) nih, 2 Mei. Buat kalian yang masih sekolah pastinya bakalan upacara untuk memperingatinya. Boleh-boleh saja upacara asalkan jangan terjebak kepada kegiatan ritualnya saja. Bukannya saya sinis terhadap Upacara Hardiknas atau semacamnya. Tapi semakin ke sini upacara-upacara agak kehilangan makna. Hanya sekadar ritual yang menanggalkan esensi dan kehilangan nyawa. Karena itu, saya mengajak pembaca Caper.id untuk menggali makna di sebalik ritual yang ada termasuk Upacara Hardiknas.
Caranya gimana?

Yuk kita membaca rapor pendidikan Indonesia. Ya, pastinya rapor ini masih jauh dari kata lengkap apalagi sempurna. Tapi setidaknya dengan membaca artinya kalian selangkah lebih maju daripada yang hanya diam saja.

1. Tentang PISA

Programme International Student Assessment (PISA). Pic By: www.texasassessment.com

Gaes pernah nggak denger tentang PISA? Eiiits PISA yang satu ini bukanlah menara yang ada di Italia. Nah kalau belum pernah denger berikut penjelasannya.

PISA akronim dari Programme International Student Assessment. Intinya adalah semacam ujian yang dilaksanakan ti diikuti oleh siswa-siswa dari berbagai negara. Hasil dari PISA merupakan prediksi kesuksesan masa depan perekonomian dari suatu negara. Indonesia berada di rangking 9 terendah dari 72 negara yang berpartisipasi pada tahun 2015. Tentunya bukan hasil yang baik untuk negara kita mengingat Indonesia nyaris tak pernah absen ikut PISA sejak tahun 2000.

Peraih rangking 1 PISA adalah negeri tetangga, Singapura. Kita bisa saja berargumen bahwa mereka pantas memperolehnya lantaran hanya memiliki luas teritorial yang tak seperapa. Pastinya mengatur pendidikan negara kepulauan dari Sabang sampai Merauke bukan perkara mudah. Akan tetapi itu tak dapat dijadikan dalih pembenaran atas buruknya prestasi Indonesia di ajang PISA. Indonesia haruslah berbenah agar pada PISA 2018 tahun ini mendapatkan hasil yang lebih baik.

2. UNBK

Ujian Nasional Berbasis Komputer. Pic By: www.bimbelajj.com

Nah kalau yang satu ini belum lama berakhir. Jenjang SMK, SMA dan SMP telah usai menjalani hajatan tahunan Ujian Nasional yang sekarang menggunakan komputer sehingga disingkat UNBK. Masalah UNBK bukan terletak pada penggunaan komputer, melainkan pada soal yang super sulit.

Jelas saja lantaran soal UNBK tahun ini memuat soal klasifikasi HOTS (Hinger Order Thinking Skill) alias kemampuan berpikir tingkat tinggi. Alhasil banyak siswa yang menyerbu akun sosmed kemdikbud dan melancarkan protes. Kalau menurut saya sih bukan salah kemdikbudnya terkait soal yang sangat sulit. Soal super sulit itu dibuat bukan tanpa alasan. Di era yang kian maju seperti sekarang ini dibutuhkan sumberdaya yang maju pula. Jadi solusinya bukan soal UNBKnya yang dipermudah tapi kemampuan siswanya yang ditingkatkan. Semoga edisi tahun depan bisa baik dan semakin baik lagi.

3. Perayaan Hardiknas dengan Nonton Film Dilan

Film Dilan 1990. Pic By: www.hantukomunitas.com

Beberapa waktu lalu, akun sosmed kemdikbud mengunggah foto yang intinya ngajakin kita nonton film Dilan untuk memperingati Hardiknas. Hello? Okelah film Dilan itu latarnya sekolahan tapi adegan perkelahian antara Dilan dengan Pak Gurunya apakah patut ditayangkan sebagai perayaan Hardiknas. Bukankan Guru itu selayaknya kita hormati dan kita hargai?

Mungkin akan ada pembelaan: “lho kan waktu itu Dilan ditampar duluan sama Pak Guru”. Okelah kalau begitu. Bukankah salah Dilan gara-gara blusukan baris di kelas lain biar bisa deketan sama Milea? Tetap saja adegan semacam itu tidak mendidik apalagi sampai untuk perayaan Hardiknas.

Intinya kita tetap harus mengapresiasi film Dilan sebagai karya seniman negeri ini. Akan tetapi mari berkata tidak untuk ditayangkan sebagai peringatan Hardiknas. Silakan menonton film Dilan sebagai sarana hiburan semata.
Sekian Rapor Pendidikan Indonesia kali ini. Semoga Hardiknas menjadi momentun untuk memperbaiki kualitas pendidikan di negeri kita. Saya akhiri dengan mengutip kata-kata dari Bapak Pendidikan Indonesia.

Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Featured Image:
Muri.org

Mahasiswa biasa-biasa saja yang suka menulis