Sempat Kontroversi dan Viral, Inilah Seputar Rocky Gerung Sang Penyelamat Kata ‘Fiksi’

Your Best Online Partner

Hai kawula muda! Halo generasi milenial! Baik yang nggak doyan micin maupun yang gemar ngemil micin. Sini-sini baca. Artikel ini nggak seberat dendam rindunya Dilan ke Milea kok. So, kalian bisa nikmati sambil ngemil atau ngopi-ngopi. Yang penting rileks, santai, woles.

Gaes

Kalian pasti nggak asing dengan nama Rocky Gerung kan? Profesor kampus UI tersebut laris manis, ‘nongol sana nongol sini’ di linimasa sosmed kita beberapa hari terakhir. Pemicunya sederhana, yaitu soal kata FIKSI. Ya, benar! cuman masalah satu kata itu yang dikaitkan dengan kitab suci sehingga menuai beragam komentar dari netizen tanah air beta.

Sebenarnya Bung Rocky punya niatan mulia yaitu menyelamatkan kata FIKSI. Niatan ini sebagai respon dari penyalahgunaan FIKSI oleh politisi sehingga memiliki makna negatif. Istilah kerennya, Bung Rocky pengen mengembalikan ‘nama baik’ kata FIKSI yang sempat tercemar. Ia mengatakan bahwa kitab suci itu fiksi, sebagai argumen bahwa fiksi itu bermakna positif.

Seperti yang kita tahu bahwa Agama adalah isu super sensitif bangsa kita. Tak berapa lama, Bung Rocky diserbu netizen yang via sosial media. Alhasil viral, sehingga nama Rocky Gerung mendadak trending, wara-wiri di caption, hastag dan mengisi linimasa sosmed kita. Sampai-sampai di hari Selasa (24/4) Bung Rocky menghadiri diskusi (tapi lebih tepat disebut debat) dan ‘dikeroyok’ oleh sepuluh panelis. Benar-benar mantap, rame!

Dasar Bung Rocky suka debat dan diskusi, walaupun ‘diskak’ berkali-kali oleh panelis, tetap saja senang. Namaya juga profesor, semakin dicecar dengan statement yang berlawanan semakin tinggi pula hasrat untuk melawannya. Dia juga mengaku suka sekali diskusi dengan Pak eS-Be-Ye dan putranya A-HaYe tapi seakan menolak untuk diskusi sama Pak Jokowi. Untuk kegemaran berdiskusi patut dicontoh nih gaes. Tapi jangan pilih-pilih alias pilih kasih kepada kawan diskusi ya, berdiskusilah dengan siapa saja!

Nah terus gimana caranya menanggapi statement kitab suci itu fiksi?

Kalau kita emang nggak percaya bahwa kitab suci itu fiksi ya sudah abaikan saja. Saya sih begitu. Lagipula Dia nggak menghubungkannya dengan agama kitab suci milik agama tertentu. So, ambil sisi baiknya saja. Bahwa Bung Rocky sudah mengembalikan makna fiksi pada tempat yang layak.

Udah dulu ya gaes, semoga saya bisa konsisten berkontribusi di caper.id. Nantikan artikel-artikel saya selanjutnya yang (semoga) tetap nikmat dibaca sambil ngemil, nge-teh atau ngopi.

Mahasiswa biasa-biasa saja yang suka menulis